Showing posts with label Komunitas. Show all posts
Showing posts with label Komunitas. Show all posts

Finally..

Sejak membuka Bengkel Baca, Agustus 2013 lalu, saya ingin sekali Bengkel Baca jadi tempat ngumpul asyik teman-teman yang sebaya, lebih tua maupun yang lebih muda. Kita membahas buku, sharing pengetahuan terkini, atau ngobrol seru tentang pengalaman sehari-hari yang berkesan dan bermakna.
Di awal berdirinya Bengkel Baca,  yang datang ke sana didominasi oleh anak SD-SMP. Tapi, di awal tahun 2014, anak SMA sampai kuliah sudah mulai berkunjung ke Bengkel Baca dan rajin sekali meminjam buku. Bahkan, beberapa bulan lalu, ada sekelompok mahasiswa dari Universitas Terbuka yang datang ke Bengkel dan meminta ijin untuk melakukan riset tentang Bengkel Baca. Mereka mengangkat profil Bengkel Baca sebagai perpustakaan kecil yang menjadi spirit literasi baru di lingkungan sekitar.
Dan di awal 2015 ini, saya senang sekali ketika berdiskusi kecil dan melempar tawaran pada mahasiswa UNMA untuk bergabung dengan saya di Literacy Club, salah satu program yang saya buat khusus untuk diskusi literasi. Mereka bilang “yes!” dan saya bilang Alhamdulillah. Hehe.
Kami berkumpul tiap akhir pekan. Masing-masing dari kami dipaksa membaca buku minimal satu buku perminggu dan mengupas isi bukunya. Selain itu, kami juga belajar bersama meningkatkan kemampuan kami berbahasa Inggris. Saya bahagia sekali. Hal yang sudah lama saya idamkan, terwujud juga. Dahaga saya terbayar. Finally I find them and I’m so happy. Come join us!
                                                                                                -Anna Lestari Anwari



Menulis = Eksis

Oleh Anna Lestari Anwari
Menulis untungnya apa sih?
SMP MA Lovers, tahu nggak sih kalau menulis itu adalah kegiatan yang menyenangkan? Yeah! Menulis itu super duper menyenangkan sebab kita bisa menuangkan pikiran, perasaan dan pengalaman kita lewat tulisan. Tulisan itu nantinya akan dibaca orang dan diapresiasi. Dengan menulis kita juga akan mendapat perasaan lega juga akan menjadikan pikiran, perasaan dan pengalaman kita terekam abadi. Wiih, nggak percaya? Sekarang bandingkan deh, saat kita bercerita pada teman-teman, mungkin cerita kita hanya bisa dikenang sehari dua hari. Tapi kalau kita membagikan cerita itu lewat tulisan, sangat mungkin tulisan itu akan terus ada sampai kita tua nanti. Ya, tulisan itu umurnya lebih panjang dari pada lisan. So, sudah mulai tertarik menulis dong?
Menulis juga sebenarnya akrab sekali dengan dunia remaja. Remaja adalah fase awal kesadaran kita membentuk kepribadian. Saat-saat remaja juga adalah saat semangat untuk eksis sedang menggebu loh. Hayoo ngacung yang pengen eksis di sekolah, di lingkungan rumah atau di jejaring sosial? Ya, dengan tulisan kita bisa semakin eksis loh, kawan!

Apa saja sih yang bisa ditulis?
Semua hal bisa ditulis! Selama tulisan itu positif selalu bisa kita tulis kok, guys. Mulailah dengan menulis hal yang kecil, yang terdekat dengan dirimu.
§  Personal Literature (Pelit)
Pelit ini semacam cerita pribadi yang berasal dari keseharian kita. Atau semacam biografi, tulisan tentang diri sendiri. Kita bisa cerita tentang nama kita, sifat dan kepribadian kita, hal-hal yang kita suka, dll. Atau kita bisa juga menceritakan kejadian paling konyol yang kita alami di sekolah, seperti ngumpet di perpustakaan saat jam pelajaran, atau hampir pingsan karena dikentutin teman. Hehe.

§  Diary
Tahu dong makhluk diary tuh kayak apa? Ya, buku harian! Kita bisa menuliskan kejadian apa saja yang kita alami hari ini. Sekecil apa pun. Suatu hari nanti, kalau kita membuka diary lagi, dijamin kita bakalan senyum-senyum sendiri. Dan ingat, cerita hidup kita nggak akan terlupakan.

§  Catatan Perjalanan
Suka jalan? Perjalanan juga hal bagus untuk ditulis! Catatan perjalanan ini bisa ditulis untuk mengenang perjalanan, bisa juga digunakan untuk memberi tahu orang lain tentang tempat yang kita kunjungi. Misal saat kita ke Tanjung Kait, kita bisa menuliskan tentang pantai itu dari mulai lokasinya, keindahannya, ada apa saja di sana, dll. Sehingga orang-orang yang belum pernah ke sana bisa mendapatkan gambarannya. Dan siapa tahu kita bisa mendapat tip dari pengelola Tanjung Kait karena sudah membantu promosi.

§  Status di Media Sosial
Siapa yang setiap hari online di facebook, twitter, path, atau instagram? Wiih semua pasti akrab dong sama jejaring sosial yang bisa kita akses dari ponsel sendiri? Manfaatkan media sosial ini sebagai latihan menulis. Ya, menulis status facebook misalnya. Coba deh kalau nulis status nggak ngasal lagi. Nggak cuma, “Hari ini cebel banget eaaa..” atau “Ich, dia lagi apa seeh? Kok SMS ue gax di bales eaa?” Hihi.
Nah, tulisan di media sosial bisa bikin kita tambah eksis. Posting juga catatan perjalan atau personal literature-mu di sana. Semua teman bisa membaca dan berkomentar. Eksis, maaan!

§  Cerpen dan Puisi
Suka baca cerita dan puisi orang lain? Hey, saatnya buat sendiri cerita dan puisimu! Amati sekeliling, ingat-ingat cerita menarik seputarmu, dan tuliskan! Atau ada yang berencana mengungkapkan perasaan pada seseorang? Pake puisi sendiri dong! Jangan pake puisi orang lain. Pasti lebih keren! Hehee.

Semangat Menulis!



Pramuka Never Ends

Oleh Anna Lestari

Siang-siang begini saat melewati jalanan lengang dengan hamparan hijau pesawahan dan pohon-pohon di sisi kanan kiri jalan, saya terkenang akan masa-masa SMP dulu. Ketika rajin sekali mengikuti kegiatan pramuka. Latihan setiap Jumat atau Sabtu sore, pelantikan, kemah, hiking, dan masih banyak lagi kegiatan kepramukaan lainnya. Semua itu sangat memberikan kesan mendalam dalam diri saya dan tanpa saya sadari sebelumnya ternyata pramuka melekatkan berbagai nilai positif dalam kepribadian saya.
Disiplin dan Kompak
Mengenal pramuka sejak SD namun baru benar-benar aktif pada masa SMP. Di MTs Mathla’ul Anwar Buaranjati lah saya memulai kegiatan di ranah kepramukaan. Saat itu saya direkrut menjadi regu inti untuk perkemahan yang akan dilangsungkan di kecamatan Sukadiri. Awalnya saya kaget karena pertama kalinya ada dalam tim yang sangat mengutamakan kedisiplinan dan kekompakan. Latihan setiap sore dan tidak boleh telat, tidak boleh mengeluh, harus terus semangat sepanjang latihan. Setiap datang terlambat, kami akan dihukum oleh pelatih kami, Kak Gadapi namanya, dengan sangat sadis. Hehee. Kesadisan itu sebenarnya hanya hiperbola dari hukuman berupa squat jam atau bending. Atau sesekali lari keliling lapangan basket. Tapi dari sana saya semakin tahu, bahwa waktu sangatlah berharga dan kedisiplinan adalah modal menghargai waktu. Tak ada toleransi bagi yang tidak disiplin, hukuman adalah harga yang harus dibayar bagi orang-orang yang lalai.
Bersiap Sebelum Berperang dan Berjuang Mati-matian
Sebenarnya ada hal yang lebih sadis dari hukuman yang diberikan bila kami terlambat, yakni proses lomba baik itu lomba satu hari atau lomba yang yang dilangsungkan dengan perkemahan. Biasanya kami latihan satu sampai dua bulan sebelum lomba, setiap hari, dalam sehari kami bisa latihan 3-4 jam. Mulai dari latihan fisik sampai latihan mental. Tapi perjuangan kami selama latihan berminggu-minggu itu hanya akan dipertaruhkan dalam sekali waktu. Tak ada toleransi bagi kesalahan. Jika pada saat hari H kita salah sedikit saja, maka latihan berminggu-minggu itu seperti tidak ada artinya. Maka di sanalah puncak perjuangan kami. Di sanalah kami berjuang sampai titik nadir. Mengerahkan segenap kekuatan sisa (karena kekuatan kami sudah lama dikuras sejak latihan) tapi harus mendapatkan hasil maksimal. Suara serak, badan pegal-pegal, kulit wajah kecoklatan karena terbakar sinar UV, tak lagi kami hiraukan. Alhamdulillah, dari setiap event yang kami ikuti, selalu saja ada tropy yang kami bawa pulang. Bahkan di beberapa event, kami menyabet juara I sampai juara umum! Wiiiw.
No Jijik, No Cengeng, No Manja!
Ada yang bilang pramuka itu jorok? Kotor-kotoran, tiarap di kubangan, duduk deprok di mana saja. Ahahahaa. Seperti kata iklan detergen, nggak kotor ya nggak belajar. Bagi kami, kotor adalah kawan sehari-hari. Kami latihan di lapangan yang berdebu, duduk di tanah tanpa alas, nyeblos ke sawah, kubangan, dan lain-lain. Hal itu belum seberapa, soal lapangan berlumpur dan semuanya itu memang harus kami hadapi sebagai bagian dari aktivitas fisik, menguji ketahanan fisik kami dan juga mental jijik kami. Tapi di luar aktivitas lomba, seringnya kami juga harus berhadapan dengan hal-hal menjijikan lainnya. Seperti dalam kemah, kami sering berkemah di perkampungan yang minim sekali fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) nya. Kami harus menumpang mandi di pemukiman warga, mendekat ke mushola atau masjid, atau langsung nyebur ke kali dan mampir di kakus-kakus terdekat. Weeh. Hal ini jadi pelajaran penting sekali buat saya. Saya yang orangnya jijikan, paling nggak bisa take a poop di WC orang lain (apalagi yang kotor dan bau), jadi harus memaksakan diri sampai tutup hidung dan tutup mata setiap masuk WC. Dan take a pie atau take a poop di kakus adalah proses ajaib yang juga pernah saya lakoni. Kotoran hasil pencernaan kita langsung jatuh dan mengalir terbawa air. It’s amazing. Hehehee. Dari hal ini saya sangat bersyukur, di rumah, masih ada kamar mandi yang bersih. Dan pelajaran lain yang saya catat adalah: jika terpaksa kakus atau cukang di kali masih lebih baik dari pada WC berlumut dan super bau. Hueks.
Selain rasa jijik yang harus dihilangkan dari seorang berjiwa pramuka, cengeng dan manja juga dua hal yang harus segera dihapus. Tidak akan ada yang simpati dengan kecengengan dan kemanjaan kita terutama saat-saat lomba berlangsung. Ketika kita bercengeng-cengeng dan bermanja-manja, bukannya tambah disayang atau diperhatikan bisa jadi kita malah ditendang! Wehehe. Tapi ada juga cengeng yang lucu. Ketika itu kami sedang makan siang, lalu tiba-tiba terdengar kegaduhan anak-anak regu putra. Ternyata ada yang kehilangan timbelnya. Yang lain sudah menyantap makanan masing-masing tapi dia masih sibuk mencari bekalnya itu. Anak-anak seperti kompak mengerjainya. Tak ada satu pun yang menawarinya makan sampai dia menangis. Setelah dia menangis, barulah ada yang mengembalikan bekal yang sengaja disembunyikan oleh anak putra. 
Hilangnya Rasa Malu dan Takut
Pramuka tuh nggak tahu malu! Hehee. Bayangkan saja, kami nyanyi-nyanyi sepanjang jalan pada saat hiking, memakai aksesoris aneh-aneh, muka coreng moreng, dilihat orang-orang kampung, semua tidak kami pedulikan. Rasanya muka kami setebal tembok. Dan hal yang paling menguras rasa malu saya adalah ketika mesti melakukan gerakan (serupa koreografi) dalam penampilan qosidah. Aduhai, itu gerakan yang diciptakan langsung oleh pelatih kami sangat membutuhkan muka tebal. Karena selain di-make up tebal lengkap dengan gincu merah, kepala dihias hijab dan pita warna mencolok, sesekali memakai selendang yang di selempangkan, kami juga harus bergerak ke kiri dan ke kanan, memiringkan lutut empat puluh lima derajat, dan gerakan-gerakan aneh lain, yang bagi saya itu lebih mengarah pada gerakan senam ketimbang gerakan tarian. Bayangkan, lantunan music qosidah diiringi gerakan senam! Haha.
Selain rasa malu, rasa takut juga hal yang harus dihilangkan dalam pramuka. Kami yang mengaku berjiwa patriot harus berani. Berani maju, berani tampil, berani menghadapi kegelapan malam, pokoknya berani! Keberanian itu dilatih dengan berbagai cara, untuk berani tampil maka kami diminta maju satu-satu, bicara di depan teman-teman atau melakukan aksi apa pun. Untuk berani bertanya, maka kami diberikan stimulant tentang satu wacana dan kami diminta untuk kritis serta tak malu bertanya bila kami tidak mengerti. Untuk berani menghadapi kegelapan, kami biasanya dilatih pada sesi pelantikan. Ada kegiatan Jurit Malam. Tengah malam kami dibangunkan dan dikumpulkan di lanpangan. Lalu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 3-4 orang. Setiap kelompok diberi rute perjalanannya dan kami akan menyusuri jalanan gelap dan sepi. Bahkan tak jarang kami mendatangi tempat-tempat yang dikenal angker. Sepanjang perjalanan akan selalu ada cerita, akan selalu ada spot yang membuat bulu kuduk merinding atau lari terkencing-kencing. Dan saya pikir, dari sana lah keberanian saya mulai terpupuk. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, tapi saya juga heran kenapa saya berani melewati jalan gelap sendirian, sepanjang Serang-Tangerang yang kata orang menyeramkan. Saya menyadari hal ini ketika ada teman saya bilang, “Mbak nggak takut pulang dari Serang ke Tangerang malem-malem? Saya aja nggak berani. Eh, mbak kan anak pramuka ya! Hehe.” Meskipun begitu, biasanya ada saja hal-hal yang membuat saya takut: misal deket-deket cicak dan lihat film-film horror. Hiiiy.
Well dari beberapa nilai yang saya dapat dari pramuka, masih banyak lagi hal-hal yang belum saya ungkapkan. Bagi saya, pramuka never ends. Tapi FYI, segala nilai dalam pramuka memang sudah tertulis jelas dalam Dasa Darma, atau sepuluh dasar anggota pramuka. Biasanya Dasa Darma selalu dengan lantang dilafalkan sebelum latihan pramuka dimulai. Mau tahu?
Dasa  Darma Pramuka
                Pramuka Itu :
1.       Takwa Kepada Tuhan yang Maha Esa
2.       Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia
3.       Patriot yang Sopan dan Ksatria
4.       Patuh dan Suka Bermusyawarah
5.       Rela Menolong dan Tabah
6.       Rajin, Terampil dan Gembira
7.       Hemat, Cermat dan Bersahaja
8.       Disiplin, Berani dan Setia
9.       Bertanggung Jawab dan Dapat Dipercaya
10.   Suci dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan


Meriahnya Reruntuhan Baluwarti

Oleh Anna Lestari

Hari Para Penyair

Percikan semangat mewarnai keberangkatan saya ke Rumah Dunia, Jumat (26/7). Pasalnya Nyenyore hari ke lima ini akan sedikit berbeda. Pada Hari Puisi Indonesia itu, 22 penyair yang puisinya tergabung dalam antologi Reruntuhan Baluwarti diundang ke Rumah Dunia untuk merayakan hari puisi sekaligus meluncurkan buku terbitan Gong Publishing tersebut.
Meskipun tidak semua penyair Reruntuhan Baluwarti hadir, setidaknya sederet penyair senior Banten seperti Toto ST Radik, Qizink La Aziva, Rahmat Heldy HS dan Tias Tatanka datang dan berdiskusi di sana. Turut hadir juga para penyair muda seperti Abdul Salam HS, Ahmad Wayang, Ardian Je, Hilman Sutedja, Poetry Ann, Nindya Syahra, Hardia Rayya dan lain-lain. Sedangkan Gol A Gong dan Firman Venayaksa tidak bisa hadir karena harus mengikuti kegiatan Forum Taman Bacaan Masyarakat di Makkasar, Sulawesi Selatan.
Kami semua antusias mendengarkan pemaparan dari Sofiyan, nara sumber dan pendiri halaman sastra Banten Raya. “Saya senang diberi kesempatan oleh Gol A Gong untuk membedah buku ini, saya baca semua puisi-puisinya. Buku ini didominasi puisi protes tentang kondisi Banten yang pragmatis,” komentar Sofiyan. “Saya bangga, budaya literasi di Banten sudah tumbuh pesat,” tambahnya.
Selain membedah buku, wartawan yang tinggal di Tangerang itu juga membuka rahasia ‘dapur’ halaman sastra Banten Raya. “Saya tidak takut kehabisan kiriman puisi setiap minggunya. Banyak sekali yang mengirimkan puisi, tidak hanya penyair-penyair yang namanya sudah banyak didengar, nama-nama baru yang karyanya bagus juga banyak yang mengirim ke Banten Raya. Meskipun baru, jika karyanya bagus maka akan saya muat. Tapi sayangnya, untuk kiriman essai atau kritik sastra masih kurang. Tidak jarang saya sendiri yang akhirnya menulis essai di sana.”
Sofiyan pun kebanjiran pertanyaan dan saran dari peserta Nyenyore yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut. Selain itu, Qizink La Aziva juga membagi pengalamannya saat mengasuh halaman sastra di Radar Banten.
“Saya tahu, mengelola halaman sastra adalah pekerjaan yang berat. Semoga Sofiyan kuat sehingga halaman sastra ini bisa terus bertahan,” ungkap editor radarbanten.com ini.


Mengenang Chairil
Chairil Anwar, penyair yang ingin hidup seribu tahun lagi lahir 26 Juli 1922. Meskipun ia wafat di usia muda, tetapi namanya masih hidup sampai saat ini.
“Hari Puisi Indonesia dirayakan setiap tanggal 26 Juli, bertepatan dengan hari lahir Chairil. Hal ini dilakukan untuk mengenang Chairil,” ungkap Toto ST Radik, penyair senior, kurator buku Reruntuhan Baluwarti saat diberi kesempatan bicara di depan.
Sayangnya penulis buku Sokrates Atawa Telunjuk Miring Di Kening ini tidak bisa mengikuti acara sampai selesai karena ada keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan.

MC Merangkap Penyair
Suasana Nyenyore semakin seru ketika anak-anak Rumah Dunia tampil membacakan puisi. Disusul beberapa penyair Reruntuhan Baluwarti. Tak ketinggalan, Rahmat Heldy HS, pembawa acara dengan kostum batik ungu itu menyegarkan suasana Hari Puisi Indonesia dengan guyonannya. Kekeliruannya dalam menyebutkan beberapa nama penyair juga mengundang gelak tawa. Di akhir acara, beberapa menit sebelum azan magrib, dosen UNBAJA yang akrab disapa Rahel ini pun membacakan puisinya.
“Pembacaan puisi yang terakhir, dari penyair professional. Yakni saya sendiri,” guraunya. Kami pun tertawa dan bertepuk tangan riuh. 
***
Proses Kreatif ‘Riwayat Ranting yang Mati’
Sejak informasi rencana pembuatan antologi Reruntuhan Baluwarti ini diposting di grup Rumah Dunia Kreatif (RDK), saya agak pesimis untuk mengikutinya karena stok puisi sosial saya sudah habis sementara deadline (DL) pengumpulan puisi sudah dekat. Tapi ternyata, DL-nya diperpanjang (awalnya 1 Juli, jadi 17 Juli). Saya pun segera menyusun diksi yang terserak, mencari-cari inspirasi dengan membaca koran lokal Banten, googling, dan lain-lain. Dalam keadaan terdesak itu, lahirlah beberapa puisi puisi (Kampung Puso, Riwayat Ranting yang Mati, Geliat Cisadane). Dengan ha berdebar (karena puisi ini akan dikuratori oleh guru puisi kamu, Toto ST Radik), saya pun mengirimkan puisinya tepat pada tanggal 17.
Inspirasi puisi ‘Riwayat Ranting yang Mati’ saya dapatkan dari foto yang saya ambil di lapangan parkir salah satu kampus di Ciputat beberapa waktu lalu. Saya pun menghubungkan gambar itu dengan realitas yang saya lihat di sana.

Riwayat Ranting yang Mati

Ada ranting yang mati
di halaman kampus sang wali
bertapa di himpitan kota
di tengah ribuan mahasiswa

Kita pongah di sana
di muka jendela lantai enam
menunggu waktu memecah
pada ingatan tentang lembar-lembar makalah

Ingatkah pesan mahaguru?
kita diminta membaca riwayat
saat segalanya sibuk berkejaran dengan nilai
demo aktivis kampus
dan kakus yang tak juga terurus

Ingatkah kita pada tulisan di dinding
dekat mushola
tempat kita duduk, tidur dan bergosip ria

Ah, rupanya kita lupa
mahaguru bijak itu
tahu apa yang ia tahu
dan yang tidak ia tahu
mengirimkan amanatnya pada kita
agar mau membaca riwayat
ranting yang mati
di halaman kampus sang wali

2013


Pembalap Insyaf


Aiih, pembalap insyaf? Masa siih? Memangnya ada? Siapa? Beneran insyaf? Apa cuma insyaf bohongan? Cuma pura-pura gitu? Memangnya pembalap apa? Pembalap motor, mobil, atau pembalap gerobak?

Ehm.. Pada nggak percaya yaa kalau di dekat kita ada pembalap liar yang udah insyaf alias tobat alias nggak pernah ikutan balapan lagi (kalau nonton balapan sih masih sering!) Haha. Beneran nggak percaya? Iikh! Sama sih, saya juga nggak percaya! Hehe. Tapi ketidakpercayaan itu harus saya uji kebenarannya! Dia harus memberikan bukti-bukti bahwa benar dia adalah mantan pembalap yang udah ngandangin motornya yang gila, super cepat, bahkan lebih cepat dari pesawat jet. Masa siih? Hehe. Saking hebatnya, motor si pembalap ini nggak punya rem tangan atau rem kaki. Yang ada cuma rem cap sandal! Jadi setiap mau berhenti, si pembalap mesti siap pegel dan lecet-lecet. Hehee.

Suatu hari, takdir menuntun saya bertemu cowok ini. “Mario Gotze!” Begitu dia mengenalkan dirinya. Kami bertukar nomor handphone, chatting di facebook, dan ngobrol sesekali di sekolah. Si Mario alias Fikri ini doyan banget cerita! Setiap ketemu, pasti ada aja ceritanya. Soal balapan dikejar polisi lah, soal main bola, bahkan kisah Nabi Ayub dia ceritakan kepada saya! Wiiih. Ini sih pembalap santri. Hehee.

Rabu lalu, dia juga ikut ngumpul Writing Class di Bengkel Baca. Mario mencoba menggoreskan pulpennya di atas kertas dan menulis! Seperti biasa, dia lebih banyak cerita dari pada nulisnya. Hehe. Tapi nggak apa-apa, sudah mampir dan gabung di Writing Class aja udah Alhamdulillah banget.

Nah tuh! Mantan pembalap aja nggak malu gabung
di Bengkel Baca. Hayo dong, teman-teman semuanya,
dari kelas 7-9, kita sama-sama semangat berubah ke
arah yang lebih baik. Jangan terlalu nyaman dengan
kenakalan! Kalau kita nakal dan malas terus,
apa kata dunia?