Showing posts with label Kupas Buku. Show all posts
Showing posts with label Kupas Buku. Show all posts

MORAL STORY FROM RE

Rere adalah pelacur lesbian yang terjerat dalam pelacuran terorganisir yang dipegang oleh Mami Lani. Awalnya Mami Lani menjelma peri baik hati yang menolong Rere ketika hidup sendirian di Jakarta dengan keadaan hamil. Setelah bayi Rere lahir, Mami Lani berubah menjadi srigala yang memaksa Rere menjadi pelacur yang melayani perempuan maupun laki-laki.
“Gue ini pelacur…,” kata Re: nyaris tak terdengar. “Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia untukku.” (Re: hlm.138)
Kutipan dalam novel Re: karya Maman Suherman di atas adalah satu dari banyak moral story yang bisa kita dapat dari novel terbitan POP April 2014 lalu ini. Sebagai pelacur Re: sadar betul telah menjadi bagian dari tatapan miring masyarakat. Sehingga Re: tak ingin Melur, anak perempuannya yang diadopsi oleh seorang guru, mengetahui pekerjaannya. Bahkan ia tak ingin, setetes keringatnya pun sampai menempel di tubuh Melur. Ia menitipkan pelukan hangatnya untuk sang anak pada Herman, sopir pribadi sekaligus teman curhatnya dua tahun belakangan.
Maman Suherman, jurnalis kelahiran Makassar yang malang melintang di industri kreatif sejak 1988 ini, menyuguhkan cerita tentang kehidupan malam Jakarta yang gemerlap dengan diskotek, termasuk aktivitas prostitusi di dalamnya. Jika Eka Kurniawan punya Dewi Ayu, pelacur di jaman pendudukan Jepang dalam Cantik Itu Luka. Maka Herman punya Rere, pelacur yang menjadi objek penelitian untuk skripsinya saat kuliah di Jurusan Kriminologi, FISIP Universitas Indonesia. Novel Re: adalah novel based on true story yang  risetnya dilakukan selama dua tahun. Tak heran bila Maman mampu menjelaskan secara rinci, mempetakan, dan menceritakan kembali realitas yang terjadi saat itu menjadi cerita yang mengalir dan sarat informasi.
Herman menceritakan kisah Rere dengan lugas dan jelas. Agaknya profesinya sebagai jurnalis cukup memengaruhi gaya tulisannya yang tidak berpanjang-panjang dengan metafor atau bahasa liris tapi langsung tepat sasaran. Meski pun terkesan to the point, Maman mampu memberikan beberapa scene yang membuat mata berkaca-kaca. Di antaranya adalah saat Rere hanya berani melihat anaknya dari jauh dan saat Rere menuliskan puisi untuk Herman di bab Tetirah sebagai pesan terakhir sebelum Rere meninggal dengan tragis: disalib di tiang listrik dengan luka besetan di seluruh tubuh dan potongan cutter yang masih menempel di pahanya.
Man,
Kalau mau ikut surgakan aku,
Tuntaskan skripsimu.
Tulis apa adanya, kabarkan tentangku
Dan tentang duniaku
Jaga dan peluk Melur, untukku. (Re: hlm.153)

Moral story yang diberikan tokoh Rere bukan seperti ceramah agama, tapi langsung dicerminkan lewat kehidupannya yang sarat luka.



Puisi Sunyi Penyair Riau

Saya mengusung judul Puisi Sunyi Penyair Riau untuk essai ini karena kecenderungan yang ada dari puisi-puisi di buku “Ijab Kabul Pengantin” ini bernuansa sunyi.Puisi sebagaimana telah kita ketahui, sering lahir dari kesunyian baik itu kesunyian lingkungan maupun kesunyian batin si penyair.Kesunyian lingkungan berarti suasana lingkungan di mana ia menuliskan puisi memang sedang sepi, tidak gaduh sehingga memberikan kontribusi positif bagi konsentrasi si penyair. Sedangkan kesunyian batin merupakan keadaan sunyi senyap di mana hanya ada dirinya dan imajinasinya karena si penyair sudah asik masyuk ke dalam dunia puisi.
Pemilihan buku puisi Hafney Maulana ini lebih dikarenakan keinginan untuk mengetahui lebih jauh puisi-puisi Hafney. Selama ini saya mengenal Hafney di komunitas Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang saya geluti lima bulan terakhir. Hafney juga beberapa kali mendapatkan penghargaan di kompetisi menulis puisi yang diadakan oleh FAM. Iajuga termasuk ke dalam daftar penyair yang lolos seleksi Pertemuan Penyair Nusantara VI yang akan dilangsungkan di Jambi akhir tahun ini.
Hafney Maulana adalah penyair kelahiran Indragili Hilir, Riau, tahun 1965.Puisi-puisinya pernah dimuat di media lokal maupun nasional.Hafney juga telah banyak melahirkan buku puisi.Penyair yang juga bekerja sebagai pengawas sekolah di lingkungan Kementrian Agama Kabupaten Indragili Hilir, Riau ini sering mengikuti events sastra seperti Mimbar Penyair Abad 21, Pertemuan Sastrawan Nusantara IX, Pertemuan Sastrawan Indonesia, dan lain-lain.
Dalam buku “Ijab Kabul Pengantin” yang juga merupakan salah satu judul puisi di dalamnya, kesunyian adalah rasa yang kentara pada puisi-puisi Hafney.Meskipun judulnya dirasa kurang mewakili isi buku karena puisi-puisinya bukan hanya tentang pengantin atau yang berhubungan dengan itu.Tidak ada kategori khusus baik secara tema maupun jenis puisi yang disajikan dalam “Ijab Kabul Pengantin.”Puisi-puisi personal, religius, bertutur dan puisi sosial berbaur dan bertebaran di setiap halaman tanpa ada runutan tata letak.
Seperti yang dikemukakan Hafney dalam pengantar buku puisinya, puisi baginya adalah seni dan seni adalah bagian dari kehidupan. Maka ia bergumul dengan puisi seperti ia bergumul dengan kehidupannya yang sarat seni itu. Puisi-puisi yang ialahirkan juga tak pelak melalui proses perenungan dan pergulatan dengan kata. Terlihat dari majas-majasmetafora, repetisi, dan alegori yang ia mainkan.
Puisi-puisi personalnya banyak menggambarkan suasana batin Hafney yang melakukan introspeksi diri atas pikiran, perasaan atau perbuatannya.Tak jarang juga si penyair menyatakan penyesalan atas waktu yang telah terlewat tanpa manfaat.Hal tersebut bisa dilihat salah satunya dari puisi berjudul “Kasidah Waktu”berikut :
Inilah perjalanan tanpa peta
Yang mengalirkan sampah
Di nadiku
Antara jalan dan gang
Sungai dan jurang
Yang membesarkan ikan-ikan sunyi
Dalam rabuku
Terkapar di jala waktu
Inilah perjalanan
Ketika usia tinggal sayap di ranjang tidur
Menyambut kutukan mimpi
Yang datang dalam mataku
Seandainya ini takdirku
Mungkin hanya, ‘selamat tinggal’
Sebuah rumah sunyi dalam otakku

Selain itu, banyak pula puisi yang menggunakan repetisi atau pengulangan. Seperti puisi-puisi berikut :
KETIKA MALAM
Ketika malam. Kubuka jendela kamar
Ada angin menampar mukaku
Ketika malam. Aku bediri di depan cermin
Ada wajah mirip aku
Ketika malam. Kucari diriku
Pada laci
Pada lemari
Pada kantong bajuku
Ketika malam. Aku tertunduk
Mengutip-ngutip waktu


BERIKAN AKU

Berikan aku
Setangkai mawar
Akan kutanam di taman nestapa

Berikan aku
Setitik air
Akan kusiram jiwa gelora

Berikan aku
Sebutir tasbih
Akan kutelan pengobat rindu

Sementara itu, puisi-puisi sosialnya lebih banyak menyoroti tentang perubahan zaman yang menggilas membuat orang-orang semakin terpuruk.Puisi sosialnya tidakdituliskan dengan cukup lugas, Hafney masih menggunakan metafora-metafora.Salah satu contoh puisi sosialnya yaitu puisi yang berjudul “Ada Jerit Ketika Pintu Terbuka”.

Ada jerit ketika pintu dibuka
Engsel-engsel berkarat. Sebuah rumah sunyi
Cuma tangis, kelaparan menyambut pagi tiba

Beginilah.Ada langit tanpa cahaya.
Jam hanya batas usia
Menyekalkan kesunyian.Menyanyikan erangan.
Mendengkurkan rintihan

Peradaban hanya burung hantu yang menunggu


Dari semua puisi yang ada di buku “Ijab Kabul Pengantin”, semua judulnya diambil dari salah satu baris puisinya.Jarang sekali ada diksi judul yang berbeda dari diksi barisnya.Sekalipun ada, hanya sedikit saja perubahannya.

Emosi Siti

Membaca merupakan proses memahami apa yang dibaca melalui indra penglihatan, dicerna dengan pikiran dan jatuh pada perasaan. Lain halnya dengan sekadar membaca, simbol-simbol bahasa hanya melintas sejenak di pikiran, tanpa menyampuri ranah emosi sedemikian kuat. Begitu pula dengan membaca cerpen-cerpen karya Ahmad Wayang di buku berjudul “Siti” ini. Jika kita membacanya dengan seksama, segala perasaan ‘dipanggil’ untuk naik ke permukaan.
Perasaan atau emosi yang muncul memang dipengaruhi oleh perbagai aspek, diantaranya intensitas dan rasionalitas. Bagi orang yang sudah mengenal dan berkawan dengan Wayang mungkin akan merasakan emosi yang lebih kuat  -bahkan mungkin menghubungkannya dengan kepribadian si penulis- ketimbang dengan orang yang baru pertama kali membaca karya-karyanya. Tapi Wayang secara jelas berusaha memasuki ranah emosi pembaca dengan pemilihan kata, alur, karakteristik tokoh dan konflik internal maupun eksternal, sehingga membuat pembaca –yang memberikan intensitas cukup kuat- diaduk sisi emosionalnya.
Cerpen “Kenangan Zen” misalnya, konflik internal (psikologis) yang dialami tokoh Gah karena cintanya kepada Zen tidak bersambut, dideskripsikan sedemikian kacau dan dalam sehingga kita turut mafhum terhadap situasi patah hati yang bisa saja dialami setiap orang. Kemudian dengan santun, Wayang memberikan sedikit petuah kepada kita, ketika tokoh Gah bangkit dan melawan sakit hatinya dengan berlari ke perempuan lain –meskipun ini tidak membuatnya lupa pada Siti-. Setidaknya Wayang telah memberitahu kita bahwa tidak baik berlarut-larut dalam nestapa bahkan “Kenangan Zen” –melalui tokoh Naila- juga bisa memberikan penghiburan kepada orang-orang yang tengah patah hati, bahwa masih banyak perempuan lain yang tidak menutup kemungkinan akan membahagian si lelaki.
Rasa kesal sekaligus ngeri juga menghampiri ketika kita singgah di cerpen “Pistol”. Satib yang garang dan keji, menjadi pembunuh hanya karena Siti-nya yang gembrot diledek orang. Hal tersebut memang bukan hal yang absurd, sebab telah banyak dijumpai kasus-kasus pembunuhan berlatarkan cinta. Tetapi agaknya tokoh Satib dibuat terlalu berlebihan. Ia membunuh orang terang-terangan, tetapi tidak ada satu pun kasus pembunuhannya yang diselisik. Dalam dunia nyata tentu agak mengherankan. Namun ini memang hanya fiktif belaka sehingga irasionalitas pun dihalalkan. Justru hilangnya rasionalistas ini lah yang lagi-lagi berhasil mengaduk emosi pembaca.
Semua cerpen dalam “Siti” –kecuali cerpen Pistol- berakhir menyakitkan. Semua masalah terselesaikan tetapi tidak menjadikan si tokoh bahagia. Cerpen “Mata” berakhir dengan perginya Siti bersama lelaki lain, dan usaha si tokoh aku merebut Siti dengan cara membunuhnya. Tak beda dengan “Mata”, cerpen “Surat” pun diakhiri dengan kepergian Siti karena Siti hanya menganggap Jon sebagai teman. Sedangkan cerpen “Cemburu” membuat Siti pergi dari hidup Gading karena Patimah –mantan kekasih Gading- juga masih menaruh harapan pada Gading.
Mengingat perkataan Darwin bahwa emosi sangat berguna untuk memotivasi diri melakukan sesuatu. Emosi yang dipinjamkan Wayang kepada kita lewat cerpen-cerpennya juga bisa jadi berguna dan memberikan motivasi bagi kita untuk tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan yang sama dengan tokoh-tokoh dalam buku “Siti” ini. Dengan kata lain, bukan hanya emosi kita saja yang tersentuh, tetapi ada pelajaran yang bisa kita ambil dari sisipan-sisipan kisah cinta di buku ini.
                                                                                     




Write, Love, Beauty


Judul Buku : Maurin
Penulis : Reni Erina
Penerbit : Cokelat Kopi
Tebal : 194 hlm
Cetakan 1 : 2012

Gea, cewek berwajah dan berkspresi flat itu nggak pernah suka ekskul Jurnalis. Tapi karena sekolah mewajibkan tiap siswanya mengikuti satu kegiatan ekstrakulikuler, dia akhirnya masuk ekskul Jurnalis. Itupun atas desakan Sherly, sahabatnya. Ketidaksukaan Gea pada dunia menulis membuatnya nggak tertarik bahkan benci pada guru tamu yang sengaja didatangkan dari luar untuk ngajarin mereka segala hal tentang kepenulisan. Bagi Gea, Maurin (guru tamu) itu menyebalkan dan sok cantik. Padahal Maurin sangat baik, dia mengajar dengan fun dan penuh cinta. Bahkan akhirnya Maurin lah yang membuat Gea menjadi seorang penulis.
Novel teenlit yang ditulis Reni Erina ini isinya informatif banget. Kita bisa belajar tentang dunia kepenulisan lewat cerita yang dikemas secara ringan dan menarik. Belajar nulis jadi nggak ngebosenin. Ditambah lagi dengan humor-humor segar yang diselipin di cerita berlatar SMA ini.
Buku ini wajib dibaca terutama oleh remaja-remaja yang mau menggandrungi dunia tulis menulis. Karena selain berisi ilmu dan tips-tips menulis, Erin juga menuangkan motivasi-motivasi yang mampu membakar semangat kita untuk terus menulis bahkan sampai jadi penulis beneran. Cepet pergi ke toko buku terdekat!





Benarkah Cinta Tak Datang Tiba-tiba?

Judul Buku : Cinta Tak Datang Tiba-tiba
Penulis : Hilal Ahmad
Penerbit : Zettu
Tebal : 163 hlm
Catakan 1 : 2012

Kata orang cinta itu bisa datang pada pandangan pertama. Tapi bagi sebagian orang, jatuh cinta pada pertemuan pertama itu justru nggak berlaku. Kayak buku yang ditulis Hilal Ahmad ini, di dalamnya kita disuguhkan cerita-cerita yang teenlit banget dengan keragaman cinta yang nggak melulu datang di pandangan pertama. Seperti Aitakatta (halaman 1), salah satu bab yang menceritakan Zhoudia, siswa International High School yang bertemu dengan Wo Young, cowok dari Gangnam yang mulai ngedeketin Zhoudia saat perkenalan pertama. Meski Zhoudia udah putus sama pacarnya, tapi dia susah untuk move on ke hati Wo Young. Cerita Zhoudia ini ngasih tahu kita kalau cinta itu butuh proses, nggak bisa kayak sulap.
Ada juga cerita tentang Metha (halaman 13), cewek yang mati-matian nggak percaya kalau cinta bisa datang secepat kilat. Tapi akhirnya dia kemakan omongannya sendiri, dia jatuh cinta dalam sekejap kepada Aghi. Dan masih banyak lagi cerita-cerita cinta remaja yang penuh kejutan di buku ini.
Penulis banyak mengambil setting lokasidikota-kota Provinsi Banten seperti Serang,Cilegon dan Rangkasbitung. Hal ini juga jadi nilai plus loh. Kita nggak melulu disuguhkan cerita teenlit yang berlatar Jakarta. Gaya cerita Hilal yang crunchy semakin menambah daya pikat buku ini. Meskipun Hilal seorang cowok, dia cukup sukses menjiwai tokoh cewek yang jadi tokoh sentral dari hampir semua ceritanya di buku ini.

Tapi sayangnya masih ada beberapa typo nih. Seperti kata ‘cewek’ yang seharusnya ditulis ‘cowok’ (halaman 19). Terlepas dari kesalahan penulisan tersebut, buku ini tetap jadi bacaan yang kudu diincar di toko buku terdekat. Hayo tunggu apa lagi?!

Curhat Remaja Nusantara

Judul : Gilalova#5 Curhat Anak Bangsa
Pengarang : Reni Erina – Hilal Ahmad, dkk
Penerbit : Gong Publishing
Tebal : 187 hlm
Cetakan : September, 2011


Bagi para Gilalovers tentu nggak asing lagi dengan Gilalova. Dan bagi yang belum pernah denger, jangan mau ketinggalan! Gilalova merupakan kumpulan cerpen remaja yang udah masuk seri ke-5 nih. Selain diisi oleh penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia, di Gilalova#5 ini kita disuguhkan dengan cerita-cerita remaja nusantara dengan setting lokal yang kental. Konflik yang dihadirkan di buku ini juga menarik, greget, dan keren! Mulai dari konflik percintaan, persahabatan, sampai keluarga.

Dengan keragaman latar belakang budaya para penulis menjadikan Gilalova#5 ini unik dan kaya akan khazanah kebudayaan nusantara. So, bagi yang ingin mendapatkan banyak hal tentang cerita remaja nusantara dan cara mereka mengemasnya dalam tulisan, harus baca Gilalova#5.

Sholat Itu Sehat!

Oleh Anna Lestari

Judul : Sangkala Lima
Pengarang : Langlang Randhawa
Penerbit : Salamadani
Tebal : 328 hlm
Cetakan : April, 2012

Larang, bocah lulusan SMP yang punya dua pusar kepala dan dianggap badung ini dikirim ke pesantren karena bapak dan ibunya tak ingin Larang menjadi tambah liar. Di pesantren pertama Larang kabur karena tidak betah. Namun, ia kembali diantar ke pesantren lain. Derita patah hati akibat cintanya diabaikan Fitri Yanti, menjadikan Larang sukarela ketika diungsikan lagi ke pesantren. Namun di pesantren barunya, Larang bertemu dengan Fitri Hasanah yang membuatnya sulit untukmelupakan Fitri Yanti. Bersama Mukri dan Dani -dua sahabat barunya- ia semakin bergajulan dan melupakan amanat ibu untuk menjaga sholat lima waktu.


Novel ini juga membahas jelas pentingnya sholat lima waktu serta manfaatnya bagi kesehatan yang ditinjau dari keilmuan Cina. Gaya penceritaannya mengalir dan lucu, namun pembaca juga bisa terbawa ke titik paling haru! Di setiap babnya, kita akan temukan kejutan-kejutan yang menjadi benang merah keseluruhan cerita hidup Larang.Keren! 

Kemaraunya Nyarang

Oleh Anna Lestari 

Semangat lokalitas mulai menggeliat di kalangan penulis muda beberapa tahun terakhir. Sebut saja Curhat Anak Bangsa yang ditulis oleh Hilal Ahmad dan kawan-kawan penulis nusantara yang mengusung tema lokalitas (mengangkat tradisi dan warna budaya suatu tempat). Juga ada La Rangku, karangan Niduparas Erlang yang sarat warna budaya kebantenan. Hal yang sama juga dilakukan Hilman Sutedja dalam buku tunggalnya yang berjudul Nyarang. Pemilihan kata Nyarang sebagai judul buku dirasa cukup tepat karena selain mengangkat bahasa Sunda Pandeglang, Nyarang juga jarang diketahui artinya oleh orang-orang di luar Pandeglang. Sehingga menimbulkan penasaran dan menggerakan seseorang untuk membacanya.
Nyarang, sebagaimana yang dideskripsikan dalam cerita, adalah ritual pengusir hujan yang  dilakukan untuk menghalau awan-awan mendung agar menjauh sehingga hujan tak jadi turun di kawasan itu. Dalam cerita, Hilman menjelaskan bahwa kekeringan sawah yang dialami Jakri lantaran ritual nyarang yang dilakukan oleh Ki Gending atas suruhan Abay yang sedang membangun sarang walet. Abay ingin sarang waletnya cepat kering. Hal tersebut menjadikan sawah Jakri gagal panen. Jakri marah lalu membalas ulah Ki Gending dengan ritual tandingan: ngalawan nyarang. Seperti yang bisa kita lihat di halaman 5 pada bukunya. “Wahey para makhluk, datangkan hujan, datangkan. Puah, puah, puah.”  Tiada henti Jakri komat-komit.
Terlepas dari keberhasilan Hilman dalam memilih judul buku dan menyajikan sentuhan lokalitas dalam ceritanya, Nyarang masih terasa kemarau. Kita tidak diberikan kesan lebih dalam tentang ritual pencegah hujan itu. Justru yang kita dapatkan adalah dendam tokoh Jakri dan tekanan yang ia alami karena tidak berhasil menurunkan hujan, sehingga Jakri gila dengan terus-terusan melakukan ritual ngalawan nyarang. Selain itu, ada beberapa diksi yang dirasa kurang mengena. Seperti ungkapan ‘kau’ dalam dialog antara Jakri dan Karta. “Kenapa kau, Jak?”, “Ah, kau bikin aku kaget saja.” (hal.1) Mungkin warna bahasanya akan lebih mengena jika kata ‘kau’ diganti dengan ‘maneh’ misalnya.
Di tengah cerita, ada kejadian pencurian sepeda motor di kampung Jakri, tepat di malam Jakri bertugas ronda. Namun sepertinya bagian itu hanya jadi tempelan cerita, sebab tidak memberikan dampak apapun pada si tokoh utama. Bahkan lucunya, Mahdi si ketua ronda, lebih menyalahkan si maling dari pada menyalahkan petugas ronda malam itu, yakni Jakri.
Selain Nyarang, ada cerpen bernuansa Banten lain yang disuguhkan Hilman. Seperti Salah Santet. Dalam Salah Santet, Hilman lebih menguatkan unsur parodi ketimbang mengangkat santet sebagai cerita yang menyeramkan. Cerpen-cerpen lain berjudul Boby, Amukan Jumari, dan Buku yang Terbakar, juga masih memunculkan warna lokalitas.
Selesai membaca Nyarang, saya teringat  Ahmadun Yosi Herfanda yang menyatakan tradisi penulisan cerpen lebih banyak ditumbuhkan oleh masyarkat urban. Sehingga cerpen-cerpen lokalitasnya pun diusung dalam bingkai ekspresi masyarakat perkotaan. Hal sama berlaku pada Hilman. Dia seorang penulis muda urban, berasal dari Pulosari Pandeglang, hijrah ke Serang lalu tumbuh dan berkembang sebagai penulis di kota Serang. Tak heran jika cerpen lokalitas yang digarapnya juga masih bernuansa urban.

___________
Anna Lestari, pengagum senja. Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai layouter Nekad Publishing.



Peramal Masa Depan

Oleh Anna Lestari

Judul Buku      : Kepada Para Pangeran
Penulis             : Toto ST Radik
Penerbit          : Gong Publishing
Tebal               : 98 halaman


Puisi, bagi sebagian orang, barangkali hanya dianggap sebagai media ekspresi semata. Namun ternyata lebih dari itu, puisi justru bisa jadi hal yang sangat magis. Puisi bisa berisi ramalan masa depan karena diproses dari pemikiran penyairnya yang tidak hanya berdasarkan kegelisahan masa lalu dan masa kini, tetapi juga pada prediksi atau hipotesa terhadap masa depan. Hal ini mungkin tidak pernah disadari sebelumnya karena katakata hanya bertuah bila itu terjadi dan dijadikan perbincangan dijadikan tanda. (Toto ST Radik, Mencari dan Kehilangan, LiST, 1996)
 Seorang penyair harus memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Sehingga puisinya tidak hanya memasuki ranah komunikasi dasar seperti yang disebutkan Laswell (who says what in which channel to whom with what effect) saja. Tetapi sampai juga pada hakikat komunikasi lainnya yaitu memengaruhi atau mengubah pemikiran dan prilaku seseorang.
Buku puisi Kepada Para Pangeran seperti sebuah buku nubuat. Penyairnya memberikan penjabaran tentang hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu yang sangat mungkin akan terjadi lagi pada masa depan. Bahkan beberapa hal yang diramalkan sudah bisa kita saksiskan kebenarannya saat ini. Seperti beberapa bait puisi berjudul Kelahiran berikut:
ternyata seluruhnya bukan mimpi
terang sudah kini: mereka, para pangeran,
menanti di titik kala
dalam kawal upacara
…
bersiaplah, pangeran
sebab ini awal perihmu yang panjang
menuju singgasana

Puisi tersebut seperti suatu ancaman bagi para pemimpin pemerintah (dalam hal ini disimbolkan dengan pangerang) yang harus bersiap menghadapi berbagai masalah pelik dalam kurun waktu yang panjang. Atau dapat diartikan juga sebagai peringatan kepada para pemimpin bahwa saat mereka terpilih menjadi penguasa pemerintah, maka saat itu pula keperihan menanti mereka. Namun biasanya yang disadari atau dilihat banyak orang, saat seseorang terpilih menjadi pemimpin maka kebahagiaan, respek, dan kebanggaan lah yang didapat. Di sinilah perbedaan mata penyair dengan mata orang-orang kebanyakan. Penyair akan lebih jeli mengasah cara pandang mereka.

Ketika penyair meramu atau mengolah puisi, maka segala diksi, majas, tipografi, dan serangkaian unsur lainnya, haruslah menjadi kesatuan yang utuh. Toto ST Radik selalu mengibaratkan puisi seperti gemblong, yang ditumbuk terus hingga benar-benar padat. Seperti itu lah semua puisi yang ada dalam buku ini, baik itu puisi-puisi pendek, atau pun puisi-puisi panjang. Dan hampir semua puisinya seolah hidup dan mengajak kita berkomunikasi memasuki ranah emosi yang sangat dalam. Kita akan ikut geram dan gelisah, kita tidak dibiarkan tenang oleh si penyair. Bahkan dalam beberapa puisi prosaic-nya seperti Bermain, Flu, dan Ketika Kau Lahir, kita seperti melihat sebuah film pendek yang benar-benar hidup dalam layar imajiner kita. Kita ikut gembira, haru, dan segala perasaan lainnya.

ibumu terbaring di ranjang menanti perut dibuka
aku merendam gundah di selasar, kaka tak henti bertanyatanya
tentang dirimu. saat itu pukul sebelas dan gerimis melebat
menerjuni malam. apa arti ketuban pecah? malam itu terasa
ngilu sekali, tubuhku seakan patah, seperti ranting yang lepas
dan remuk membentur batu
(Ketika Kau Lahir, hlm. 90)

Pada akhirnya, puisi haruslah ditulis dengan mengerahkan seluruh kekuatan jiwa dan raga, mengaduk emosi pembaca, dan tidak hanya menghanyutkan kita dalam kesenangan masa lalu, tapi juga meneror kita akan ancaman-ancaman masa depan. Dengan kata lain, puisi menjadi nubuat, dan penyair sebagai peramalnya.

__________ 
Anna Lestari lahir di Tangerang, 19 Februari 1990. Lulusan UIN Syarif Hidayatullah. Bergiat di Majelis Puisi Rumah Dunia sejak 2012. Kini bekerja sebagai layouter Nekad Publishing dan advertiser di Genta Collection.